Posts Tagged ‘PROGRAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF BAGI ANAK PENYANDANG TUNA RUNGU’

PROGRAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF BAGI ANAK PENYANDANG TUNA RUNGU

PROGRAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI ADAPTIF

BAGI ANAK PENYANDANG TUNA RUNGU

MAKALAH

Disusun untuk memenuhi mata kuliah

Pendidikan Adaptif

yang dibina oleh Bapak Mardianto

 

 

Disusun Oleh :

Kelompok 1

 

 

Arief Yuni A (207161406478)

Aziz Maulana (207161406479)

Adi Mulyono (207161406480)

Andi Feprianto (207161406481)

Hendrik Prasetyo (207161406482)

Fandu Setiawan (107161406988)

Nurma Januarti (107161406989)

Rahman Diputra (107161406992)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

JURUSAN PENDIDIKAN JASMANI

Juni, 2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan Jasmani Khusus didefinisikan sebagai satu sistem penyampaian pelayanan yang komprehensif yang dirancang untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor . Pelayanan tersebut mencakup penilaian, program pendidikan individual (PPI), pengajaran bersifat pengembangan dan / atau yang disarankan, konseling dan koordinasi dari sumber atau layanan yang terkait untuk memberikan pengalaman pendidikan jasmani yang optimal kepada semua anak dan pemuda.

Pelayanan ini dapat diberikan oleh spesialis dalam pendidikan jasmani khusus atau oleh seorang guru Pendidikan Jasmani yang telah memperoleh latihan khusus untuk melaksanakan berbagai macam tugas .

Secara singkat dapat dikatakan bahwa pendidikan jasmani khusus adalah satu bagian khusus adalah satu bagian khusus dalam pendidikan jasmani yang dikembangkan untuk menyediakan program bagi individu dengan kebutuhan khusus.

Selain itu diketahui pula bahwa tujuan pendidikan jasmani bagi yang berkelainan adalah untuk membantu mereka mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial yang sepadan dengan potensi mereka melalui program aktivitas pendidikan jasmani biasa dan khusus yang dirancang dengan hati-hati. Maka dari itu disusunlah makalah ini untuk menambah pengetahuan pembaca mengenai anak-anak berpendengaran Terbatas.

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah Definisi dari Tuli dan Mendengar Keras?

  2. Bagaimana Karakteristik anak-anak Berkelaian Pendengaran?

  3. Bagaimana Strategi Intruksional untuk Pengajaran?

  4. Apa saja aktivitas yang disarankan dan dilarang untuk Pengajaran pada anak-anak berpendengaran Terbatas?

C. Kemampuan Umum Anak Tuna Rungu

Anak penyandang tuna rungu pada dasarnya tidak terlalu memiliki karakteristik dan kemampuan umum yang berbeda dengan anak-anak normal yang lainnya. Kemampuan umum anak tuna rungu dalam pendidikan jasmani dan olahraga hampir sama dengan kemampuan anak-anak normal, hanya saja pada anak tuna rungu agak terganggu dan terhalang jika aktivitas tersebut menggunakan suara-suara sebagai aba-abanya. Terlebih lagi pada anak yang tuli yang sama sekali sulit untuk dapat mendengar suara sebagai aba-aba, akan terhalang dalam aktivitas dan kemampuannya.

D. Ciri-Ciri Anak Berkelainan Pendengaran

a. Psikomotor

  1. Menurut definisi, peserta didik pendengarannya terbatas atau hampir kehilangan pendengaran. Hanya sedikit sekali yang tuli total.
  2. Yang berpendengaran terbatas cenderung mendapat infeksi telinga.

  3. Sejumlah peserta didik berpendengaran terbatas menderita dering yang terus menerus dalam telinga.

  4. Kehilangan kemampuan mendengar meniadakan umpan balik berlatar belakang auditorial (berkaitan dengan pendengaran)yang akan mempengaruhi kemampuan yang berkaitan dengan ruang dan gerak.

  5. Peserta berpendengaran terbatas cenderung memiliki sikap badan yang kurang baik.

  6. Kadangkala, peserta didik akan memperlihatkan gerak tanpa tujuan.

  7. Beberapa individu berpendengaran terbatas berjalan dengan menyeret kaki. Masalah ini berkaitan dengan ketidakmampuan mendengar gerak dan merasa aman bila selalu ada kontak dengan tanah.

  8. Perkembangan gerak dari peserta didik berpendengaran terbatas terbelakang kira-kira 1,5 tahun dari yang normal.

  9. Peserta didik berpendengaran terbatas kenyataannya kurang bugar daripada yang normal, karena mereka cenderung duduk .Mereka menggunakan energi psikis dan jasmani untuk perjuangan berkomunikasi sehari-hari

  10. Keseimbangan (statis dan dinamis) dan kelincahan biasanya kurang pada peserta didik berpendengaran terbatas dengan komplikasi telinga di dalam.

b. Kognitif

  1. Kebanyakan peserta didik berpendengaran terbatas berintelegent normal dalam prestasi sekolah disebabkan masalah komunikasi. Kemampuan memahami abstrak biasanya terpengaruh.
  2. Kekurangan dalam berkomunikasi merupakan tantangan terbesar dari peserta didik yang berpendengaran terbatas.

  3. Kemampuan bahasa dari yang berpendengaran terbatas sering meningkat dengan menggunakan alat pendengar yang memperkeras suara.

  4. Di samping menggunakan alat pendengaran kemampuan mendengar residual, peserta didik berpendengaran terbatas mengkompensasi kehilangan pendengaran terutama dengan menggunakan penglihatan. Mereka memperhatikan tanda, isyarat dari bahasa tubuh dan mengartikan isyarat lingkungan indera peraba adalah alat kedua digunakan untuk berkomunikasi.

  5. Pembaca bibir yang paling kompeten mungkin hanya dapat menangkap ucapan orang lain sebanyak 25 %.Hanya sedikit ucapan suara dapat dipahami.

c. Afektif

  1. Peserta didik berpendengaran terbatas cenderung kesepian, menutup diri dari dunia luar. Mereka cenderung berhubungan orang lain yang juga kehilangan pendengaran.
  2. Peserta didik yang muda yang berpendengaran terbatas paling cenderung kurang social, karena mereka memiliki kesempatan sedikit untuk bermain secara alamiah.

  3. Peserta didik berpendengaran sangat terbatas biasanya pendiam. Mereka jarang sekali tertawa.
  4. Peserta didik berpendengaran terbatas cenderung sangat cemas dan takut, sebagian karena mereka tidak mudah di peringatkan terhadap bahaya.

E. Strategi Instruksional

a. Psikomotor

  1. Gunakan indera lain untuk instruksional. Berikan bantuan khusus dalam menggunakan bantuan visual, seperti papan pengumuman, papan tulis, pita video, cermin dan demonstrasi. Gunakan tuntunan tangan untuk menggunakan kemampuan residual.
  2. Bila peserta didik memiliki radangan, hindari aktivitas dengan kondisi tempat yang suhu banyak berubah.

  3. Hindari suara yang terlalu banyak dalam ruang, kolam renang atau lapangan permainan.

  4. Ajar peserta didik untuk membedakan hubungan ruang melalui gerak baik pendidikan gerak maupun permainan terstruktur.

  5. Berikan model dari sikap static dan dinamis yang baik. Gunakan cermin dan alat visual lainnya untuk mendorong memiliki sikap tubuh yang baik.

  6. Langsung bertindak untuk menyiapkan perilaku yang tidak baik. Karena hal itu tidak akan hilang dengan sendirinya.

  7. Gunakan peserta didik yang normal dan anda sendiri sebagai model. Gunakan umpan balik audio-visual dan cermin sebagai teknik. Secara fisik dorong peserta didik mengangkat kaki dengan secara lembut memukul kakinya. Perkuat cara berjalan dengan tidak menyeret kaki.
  8. Seluruh rentangan perkembangan aktivitas amat penting bagi peserta didik ini. Tekankan berjalan, lari, lompat, di samping keterampilan koordinasi mata-kaki dan mata tangan, karena kemampuan tersebut dibutuhkan seumur hidup.

  9. Berikan aktivitas untuk kekuatan kardiovaskuler, kelentukan paling kurang 3 kali per minggu. Manfaatkan semaksimal mungkin bantuan visual.
  10. Hindari aktivitas memanjat seperti tali tangga dan perkakas. Latihan kelincahan melibatkan benda lain yang bergerak tidak disarankan.

b. Kognitif

  1. Jangan perlakukan peserta didik berpendengaran terbatas sebagai yang bermental terbelakang. Guru pelatih jasmani perlu selalu memperhatikan masalah dari peserta didik berpendengaran terbatas sebagai penyebab utama prestasi kurang.

  2. Menirukan gerak yang didemonstrasikan adalah cara berkomunikasi yang penting bagi guru pendidikan jasmani. Gunakan hanya kata-kata esensial atau gerak untuk menyampaikan suatu pesan. Ulangi pesan lisan dengan cara lain bila komunikasi terputus. Jangan lakukan gerak bibir secara berlebihan bagi pembaca ucapan. Tetap tinggal di tempat dan minta peserta didik mendekat dan bertatap muka dengan anda. Hindari formasi lingkaran. Beri contoh keterampilan jasmani dengan punggung ke peserta didik untuk menghindari kebingungan untuk meniru, tetapi jangan berbicara sebelum anda menghadap peserta didik. Secara jasmaniah, bombing peserta didik untuk melakukan gerak yang dikehendaki bila diperlukan, dan gunakan isyarat tangan bilamana tempat dan waktu tepat.

  3. Ketahui dimana alat pendengar dipasang, dilepas dan dirawat. Peserta didik jangan memakai pakaian terbuat dari bahan yang renyah (crispy) yang dapat berupa sumber suara static.

  4. Gunakan penangkap perhatian, dengan berbagai cara seperti mengangkat tangan, menghentakkan kaki, alat control jauh, cahaya senter dan bendera berwarna. Usahakan lingkungan mengajar cukup diterangi cahaya dan cahaya di belakang guru.

  5. Usahakan agar petunjuk-petunjuk pokok dipahami dengan cara mengulang-ulang sebelum satu aktivitas dimulai. Petunjuk lebih sulit disampaikan bila peserta didik telah bergerak.

c. Afektif

  1. Aktivitas social harus menjadi prioritas tertinggi. Tunjukkan kepada peserta didik yang normal akibat kehilangan pendengaran melalui simulasi dan penggunaan isyarat.

  2. Ambil tindakan sedini mungkin terhadap anak-anak berpendengaran terbatas karena keturunan. Bantu mereka dengan memberikan kesempatan untuk bermain, temukan anak-anak berpendengaran normal dengan anak-anak berpendengaran terbatas. Interaksi antara 2 kelompok itu harus diperkuat.
  3. Berikan berbagai macam aktivitas jasmani yang melibatkan orang lain. Pengalaman gerak itu merangsang emosi.
  4. Kelas dari peserta didik yang berpendenagaran sangat terbatas harus terdiri dari hanya 7-10 orang. Perkenalan dengan alat dan fasilitas harus mendahului aktivitas. Ajarkan peserta didik bagaimana cara jatuh. Semua petunjuk penting harus telah lengkap diberikan sebelum gerak dimulai, dan gunakan isyarat visual dan rabaan

F. Aktivitas yang Disarankan dan Dilarang

a. Kebugaran Jasmani dan Gerak

Sebagaimana telah diutarakan, banyak peserta didik berpendengaran terbatas membutuhkan program yang memberikan tekanan kepada kebugaran karena mereka cenderung lebih banyak duduk. Berbagai macam aktivitas yang memerlukan kekuatan, daya tahan kardiovaskuler dan kelentukan perlu sedikit disesuaikan atau tidak sama sekali bagi peserta berpendengaran terbatas. Banyak latihan kebugaran yang dapat dilakukan tanpa peralatan, dapat dilakukan dengan posisi rendah atau di tanah. Bila latihan dengan sikap tubuh biasanya tegak, peserta didik yang berpendengaran terbatas yang mempunyai masalah keseimbangan harus diperbolehkan mengambil posisi dengan pusat gravitasi yang rendah. Mereka yang tidak memiliki masalah keseimbangan tidak diperlukan penyesuaian, mereka harus diizinkan berpartisipasi sepenuhnya dalam aktivitas yang berkaitan dengan kesegaran ,termasuk:

  1. Angkat Besi
  2. Angkat Berat dengan system Universal
  3. Latihan Kekuatan Isometrik
  4. Senam
  5. Lari jarak sedang dan jauh
  6. Tes Kesegaran Jasmani
  7. Latihan Sirkuit Berorientasi Kesegaran
  8. Latihan lari Rintangan berorientasi Kesegaran
  9. Program Latihan Rintangan Berorientasi Kesegaran
  10. Aktivitas Mengetes Diri Untuk Meningkatkan Kesegaran

b. Keterampilan dan Pola Gerak Dasar

Di samping bentuk baku dari perkembangan keterampilan gerak yang harus diajarkan kepada semua peserta didik, peserta didik berpendengaran terbatas membutuhkan aktivitas yang meningkatkan orientasi irama, sikap tubuh dan keseimbangan.

Satu metode yang tidak menakutkan, yang dapat digunakan mengembangkan keterampilan dasar itu adalah pendidikan gerak(movement education).Penemuan dan eksperimentasi yang terpimpin tentang gerak yang baru dan yang telah dikenal sebagai satu pendekatan yang digunakan dalam pendidikan gerak, dapat membantu mengurangi rasa cemas terhadap gerak pada umumnya. Selain itu, setelah berpartisipasi dalam berbagai macam gerak, rasa cemas peserta didik mungkin akan berkurang apabila gerak baru diperlukan di masa yang akan datang.

Aktivitas keseimbangan merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi peserta didik berpendengaran terbatas yang pada umumnya kurang baik dalam keseimbangan. Walaupun pusat keseimbangan tidak dapat diperbaiki, keseimbangan seakan-akan dapat diperbaiki dengan meningkatkan kepekaan indera lain terutama kinestetik dan visual. Tugas keseimbangan yang sederhana dengan factor bahaya kecil adalah tugas yang dilakukan di lantai dengan sikap bungkuk atau berdiri. Aktivitas yang ada unsure tinggi (Tangga, Tali, Balok keseimbangan yang tinggi) pada umumnya harus dihindarkan. Aktivitas memutar tubuh juga tidak disarankan bagi peserta didik yang memiliki masalah keseimbangan.

Irama dapat secara efektif diajarkan dengan menggunakan penglihatan, pendengaran residual, indera peraba dan kinestetik. Banyak bentuk gerak seperti berbaris dapat diajarkan dengan berhasil dengan melalui cara menirukan. Lonceng, peluit, dengan nada rendah, fonograf, mikrofon dan megafon dapat menimbulkan getaran yang dapat dirasakan oleh peserta didik berpendengaran terbatas.

c. Aktivitas Individual dan Kelompok

Peserta didik berpendengaran terbatas dapat berhasil dalam semua tipe permainan individual, ganda dan kelompok, Berikut diberikan beberapa saran penyesuaian dan pedoman untuk individual dan kelompok (French dan Jasma:1982,197):

  1. Permainan dengan sedikit peraturan, tidak ada unsure salah, dengan batasan-batasan minimal akan meningkatkan keberhasilan dengan cepat. Permainan tradisi apapun dapat dimodifikasi, kadangkala diperlukan bantuan peserta didik lain agar tujuan dapat dicapai.

  2. Bila peraturan permainan perlu dipatuhi, sungguh-sungguh, guru pendidikan jasmani harus menggunakan bantuan visual dan usahakan agar peraturan dasar dan isyarat sepenuhnya dipahami oleh semua peserta sebelum aktivitas dimulai.

  3. Peserta didik berpendengaran terbatas dapat diberikan bahan tertulis untuk melengkapi instruksi. Bahan tersebut dapat mengulangi peraturan dan strategi permainan yang telah diperkenalkan dalam kelas.

  4. Untuk aktivitas yang memungkinkan terjadi kepala ada kontak dengan benda atau orang lain, semua alat Bantu pendengaran harus dilepas. Aktivitas ini tidak disarankan untuk peserta didik yang cenderung akan lebih merusak mekanisme pendengaran. Aktivitas seperti tinju, sepak bola, Amerika termasuk dalam kategori ini.

  5. Permaianan yang harus menutup mata dengan kain tidak disarankan untuk semua peserta didik yang pendengaranya tidak memadai.

  6. Gunakan peluit dengan suara rendah. Tidak semua peluit mempunyai tingkat Hz yang tetap.

  7. Golf mensyaratkan teman bermain yang berpendengaran baik untuk bereaksi terhadap teriakan “Bola”.

Unsur social dalam permainan sama pentingnya dengan perolehan dan pemeliharaan keterampilan jasmani. Kemampuan dalam aktivitas waktu luang juga bernilai bagi berpendengaran terbatas setelah meninggalkan lembaga pendidikan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Sejarah Tuna Rungu

(Masih Dicari Materinya Di Internet)

B. Macam-macam Keterampilan Anak Tuna Rungu.

(Masih dicari materinya di internet)

C.Sebab-sebab tuna rungu

Penyebab ketunarunguan dapat terjadi sebelum lahir (pranatal), ketika lahir (natal), dan sesudah lahir (post natal). Trybus (1985) dalam Somad dan Herawati (1996) mengemukakan enam penyebab ketunarunguan: 1) keturunan, 2) Penyakit bawaan dari pihak ibu, 3) komplikasi selama kehamilan dan kelahiran, 4) radang selaput otak (meningitis), 5) otitis media (radang pada bagian telinga tengah), dan 6) penyakitanak-anak berupa radang atau luka-luka. Namun penyebab ketunarunguan yang lebih banyak adalah keturunan, penyakit, dari pihak ibu, dan komplikasi selama kehamilan.

Faktor-faktor penyebab ketunarunguan

1. Faktor internal diri anak

Faktor dari dalam diri anak terdapat beberapa hal yang menyebabkan ketunarunguan:

    1. Faktor keturunan dari salah satu atau kedua orang tua yang mengalami ketunarunguan.

    2. Penyakit campak Jerman (Rubella) yang diderita ibu yang sedang mengandung.
    3. Keracunan darah atau Toxaminia yang diderita ibu yang sedang mengandung.

2. Faktor eksternal diri anak

a) Anak mengalami infeksi saat dilahirkan. Misal, anak tertular Herpes implex yang menyerang alat kelamin ibu.

b) Meningitis atau radang selaput otak yang disebabkan oleh bakteri yang menyerang labyrinth (telinga dalam) melalui sistem sel-sel udara pada telinga tengah.

c) Radang telinga bagian tengah (otitis media) pada anak. Radang ini mengeluarkan nanah, yang menggumpal dan mengganggu hantaran bunyi.

BAB III
PROGRAM PEMBELAJARAN

A. Perlunya Guru Pendidikan Jasmani Adaptif khusus untuk masing-masing

kelainan

Penggunaan pendekatan non-kategori sangat penting bagi guru pendidikan jasmani.Umpamanya, pada masa lalu guru diminta mengajar kelas pendidikan jasmani yang semua terdiri dari anak-anak yang terbelakang mentalnya. Tetapi kategori atau penanaman kelomp[ok itu sebagai satu keseluruhan sedikit sekali kaitannya dengan kebutuhan , kemampuan dan minat tiap anak dalam kelas . Sekarang dengan kecenderungan pada non kategori ank dapat dimasukkan ke dalam kelas berdasarkan pada kemampuan fungsional yang relevan dengan tujuan kelas. Umpamanya, guru telah diberi informasi bahwa anak-anak dalm kelas itu kaku dala gerak dan dalam keterampilan gerak terbelakang, bila dibandingkan dengan teman sebayanyayang normal. Kelas itu dapat terdiri dari anak yang prestasinya dibawah normal, normal dan di atas normal.Tambahan lagi , beberapa anak tidak cocok betul dalam satu kategori, mereka berkelainan ganda. Seorang anak dapat menderita ayan dan dia secara mental jua terbelakang . Seorang guru dapat mempunyai anak-anak dengan berkelaian ganda dalam satu kelas. Persiapan professional menurut kategori tidak akan dapat mempersiapkan seorang guru pun secara optimal untuk mengajar semua tipe peserta didik. Khusunya dalam pendidikan jasmani , banyak aktivitas dan metode yang digunakan untuk anak-anak yang berkondisi kelaina gabungan karena mereka lebih menyerupai atau sama denagn teman sebaya yang normal daripada mereka berbeda dari teman sebayanya.

  1. Kelaian Pendengaran

Guru yang termasuk mengajarkan pendidikan jasmani, tidak melakukan diagnosisi ,namun mereka berasda dalam posisi mengamati untuk memeroleh data tentang keterbatasan pendengaran.Tanda-tandanya:

  • Cara berbicara tidak baik
  • Kepala diarahkan ke sumber bunyi
  • Berulang kali meminta pertanyaan atau pernyataan diulang.

  • Sering sakit kepala
  • Melamun dan perhatian kurang
  • Mempunyai masalah keseimbangan
  1. Karakteristik dan Strategi Pengajaran

Guru pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuaninstruksionalnya melalui belajar berkomuikasi yang baik berbagai cara dengan semua tipe peserta didik.Komunikasi tangan melalui isyarat –isyarat (isyarat tangan yang menunjukan kata atau frase) dapat meningkatkan komunikasi dengan berpendengaran terbatas dalam kelas atau ruang yang besar.Selain itu, dengan menggunakan isyarat tangan dapat membantu peserta didik berkomunikasi lebih baik denagn teman sebaya yang berpendenagaran terbatas .

Guru Pendidikan jasmani dapat menggunakan teknik berkomunikasi tradisional dan non trasisional dengan peserta didik berpendengaran terbatas .Schmit dan Dunn(1980) menyarankan menggunakan isyarat yang mudah dipahami yang ditempel pada papan pengumuman. Isyarat-isyarat itu dapat bervariasi dari yang konkret ke abstrak yang meyatakan konsep kesadaran tubuh(body awareness), kesadaran ruang dan kualitas gerak. Umpamanya , gambar sebuah tangan dapat menyatakan penggunaan tangan saja dalam tugas satu gerak, panah dapat menyatakan arah gerak,satu garis berombak denagn banyak puncak dan lembah dapat menyatakan rangkaian gerak yang cepat. Isyarat bahasa tradisional mungkin lebih dapat diterima diantara anggota tim pendidikan khusus dan antara individu berpendengaran terbatas. Penting sekali menggunakan teknik komunikasi yang tidak hanya digunakan dalam pendidikan tetapi, juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari .

BOLA- Pantomifn sebuah bola dengan kedua tangan

LARI – Kaitkan telunjuk kanan pada jempol tangan Telunjuk menunjuk; denycrn gerakkan kedua ke depan

 

 

Buat tinju dengan kedua tangan, telapak tangan atas yang lain, telapak tangan berhadapan

 

 

MERANGKAK jempol mengarah ke menghadap ke bawah Putar kedua tangan pada gerakan merangkak

 

MENARI – Tempatkan dua jari di telapak tangan yang lain. Gerakkan kedua jari V

maju mundur seakan-akanmenari

 

KE JAR – Genggam kedua tangan kecuali jempol. Genggaman arahkan ke samping; dengan cepat tangan yang satu mengikuti yang lain ke depan

 

 

 

BAIK-Tangan terbuka.jari-jari letakkan di mulut. Gerakkan tangan ke depan, , sehingga telapak tangan mengnadap ke alas.

 

 

 

LATIHAN – Buat linju dengan kedua fangan Buat beberapa kali gerakan mengangkal bar­bel.

 

 

 

GAME- Buat tinju dengan kedua tangan, jempol mengarah ke atas. Ke dua tinju bergerak mendekati, bukD jari beradu dan bergerak ke atas.

 

LOMPAT – Tempaikan dua jari tangan yang satu (V) berdiri tegak di telapaK tangan yang lain. Tekuk kedua jari dan gerakkan ke atas.

 

TANGKAP - Satu tangan membuat tinju dengan tangan yang lain terbuka. pantomim gerak menangkap benda kecil, berakhirdengan tinju di atas tangan lain.

 

KUAT-kedua tangan membuat tinju.Angkat di depan badan ,kedua lengan membuat orang sikap kuat.

 

LEMPAR Buat tinju dengan tangan yang satu. Pantomim gerakan melem-par.

 

MANDI – Tinju berada dekatkepala, pantomim air memancur dengan mem-buka tinju beberapa kali

 

Contoh gerakan Intruksional.

B.Program latihan Individu

(masih dicari materinya)

C.Program latihan Kelompok Kecil

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

  • Pendidikan Jasmani Khusus didefinisikan sebagai satu sistem penyampaian pelayanan yang komprehensif yang dirancang untuk mengidentifikasi, dan memecahkan masalah dalam ranah psikomotor .
  • Tujuan pendidikan jasmani bagi yang berkelainan adalah untuk membantu mereka mencapai pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, emosional dan sosial yang sepadan dengan potensi mereka melalui program aktivitas pendidikan jasmani biasa dan khusus yang dirancang dengan hati-hati.
  • “Tuli “berarti satu kerusakan pendengaran yang begitu berat sehingga anak terhalang dalam pemrosesan informasi linguistic melalui pendengaran dengan atau tanpa pengeras suara yang sangat mempengaruhi unjuk kerja pendidikan.

“Mendengar Keras” berarti kerusakan pendengaran, baik tetap maupun tidak tetap yang akan sangat mempengaruhi unjuk kerja pendidikan anak tetap tidak termasuk definisi tuli.

  • Dua ciri bunyi adalah kekerasan(loudness)dan nada (pitch) bunyi.

  • Penggolongan tingkat pendengaran sebagai berikut:

  1. Pendengaran sedikit(slight) = 25-40 dB hilang
  2. Pendengaran sedikit sekali(mild) = 41-55 dB hilang

  3. Pendengaran Amat sedikit(marked) =56-70 dB hilang

  4. Pendengaran amat sedikit sekali(severe) =71-90 dB hilang

  5. Pendengaran sangat terbatas sekali = 91-….dB hilang

    1. Tanda-tandanya adalah sebagai berikut:

  1. Cara berbicara kurang baik
  2. Kepala diarahkan ke sumber suara
  3. Berulang kali minta pertanyaan atau pernyataan diulang

  4. Sering sakit telinga
  5. Cairan keluar dari telinga
  6. Melamun dan perhatian kurang
  7. Mempunyai masalah keseimbangan
    1. Ciri-Ciri Anak Berkelainan Pendengaran

a. Psikomotor

  1. cenderung mendapat infeksi telinga.
  2. memiliki sikap badan yang kurang baik.

  3. memperlihatkan gerak tanpa tujuan
  4. berjalan dengan menyeret kaki
  5. Keseimbangan (statis dan dinamis) dan kelincahan biasanya kurang pada peserta didik berpendengaran terbatas dengan komplikasi telinga di dalam.

b. Kognitif

  1. Kemampuan memahami abstrak biasanya terpengaruh.

  2. Kekurangan dalam berkomunikasi merupakan tantangan terbesar dari peserta didik yang berpendengaran terbatas

  3. Kemampuan bahasa dari yang berpendengaran terbatas sering meningkat dengan menggunakan alat pendengar yang memperkeras suara.

  4. Pembaca bibir yang paling kompeten mungkin hanya dapat menangkap ucapan orang lain sebanyak 25 %.

    1. Strategi Instruksional

a. Psikomotor

  1. Berikan bantuan khusus dalam menggunakan bantuan visual, seperti papan pengumuman, papan tulis, pita video

  2. Gunakan indera lain untuk instruksional
  3. Hindari suara yang terlalu banyak dalam ruang, kolam renang atau lapangan permainan

  1. Berikan model dari sikap static dan dinamis yang baik

  2. Gunakan peserta didik yang normal dan anda sendiri sebagai model.

  3. Berikan aktivitas untuk kekuatan kardiovaskuler, kelentukan paling kurang 3 kali per minggu

  4. Hindari aktivitas memanjat seperti tali tangga dan perkakas.

b. Kognitif

  1. Jangan perlakukan peserta didik berpendengaran terbatas sebagai yang bermental terbelakang.

  2. Menirukan gerak yang didemonstrasikan adalah cara berkomunikasi yang penting bagi guru pendidikan jasmani.

  3. Gunakan penangkap perhatian, dengan berbagai cara seperti mengangkat tangan, menghentakkan kaki, alat control jauh, cahaya senter dan bendera berwarna.

c. Afektif

  1. Aktivitas social harus menjadi prioritas tertinggi.

  2. Ambil tindakan sedini mungkin terhadap anak-anak berpendengaran terbatas karena keturunan

  3. Kelas dari peserta didik yang berpendenagaran sangat terbatas harus terdiri dari hanya 7-10 orang

    • Aktivitas yang Disarankan
  1. Angkat Besi
  2. Angkat Berat dengan system Universal
  3. Latihan Kekuatan Isometrik
  4. Senam
  5. Lari jarak sedang dan jauh
  6. Tes Kesegaran Jasmani
  7. Latihan Sirkuit Berorientasi Kesegaran
  8. Latihan lari Rintangan berorientasi Kesegaran
  9. Program Latihan Rintangan Berorientasi Kesegaran

  10. Aktivitas Mengetes Diri Untuk Meningkatkan Kesegaran

2. Saran

Dapat disarankan bahwa untuk mendapatkan banyak informasi mengenai ciri-ciri anak yang mendapatkan kelainan pendengaran dan strategi instruksional . maka dapat menggunakan makalah ini sebagai bahan acuan informasi .

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Abdoellah,Arma.1996.Pendidikan Jasmani Adaptif.Jakarta: DEPDIKBUD Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pendidikan Tenaga Akademik.

Yunus,Mahmud&Johannes,Uray.1992.Psikologi Olahraga.Malang:DEPDIKBUD Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas.

Widiati, Sri CH dan Murtadlo. 2007. Pendidikan Jasmani dan Olahraga Adaptif. Jakarta: DEPDIKNAS, Dierektorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.

Winarsih, Murni. 2007. Intervensi Dini Bagi Anak Tunarungu dalam Pemerolehan Bahasa. Jakarta: DEPDIKNAS, Dierektorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Ketenagaan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.